Internet of Things, Implikasi dan Solusinya

IoT1

Internet of Things (IoT) terdiri atas milyaran perangkat-perangkat kecil yang saling terhubung melalui internet, mulai dari peralatan rumah tangga, kendaraan, dan semua peralatan yang diberi sentuhan teknologi elektronik, software, sensor, aktuator yang menyebabkan peralatan dapat mengumpulkan data, saling terhubung, berinteraksi, berkolaborasi dan saling bertukar informasi..

Pasar IoT terus berkembang dan semakin banyak peralatan yang akan terhubung ke internet. Menurut Samsung dalam Global IoT Market Trend and Prospect, IoT berkembang dengan kecepatan luar biasa dan pasar IoT akan menjadi kekuatan dominan di seluruh spektrum industri yang terkait dengan teknologi. Pendorong utama di balik kekuatan pertumbuhan ini adalah banyaknya koneksi yang dibangun di antara berbagai jenis perangkat, layanan, dan informasi.

Saat dunia semakin terhubung dengan internet, banyak pakar industri yang memberi kesaksian tentang pertumbuhan IoT yang lebih besar di masa depan. Menurut International Data Corporation (IDC), pasar IoT diperkirakan tumbuh dari $655,8 miliar pada tahun 2014 menjadi $1,7 triliun pada tahun 2020. Pasar yang luas ini terdiri dari pasar modul/sensor, konektivitas, layanan dan teknologi pendukung lainnya.

Mengacu pada Cisco Global Cloud Index: Forecast and Methodology 2013-2018 White Paper, secara global, data yang dihasilkan oleh perangat IoT akan 277 kali lebih besar dibanding data yang dikirimkan ke data center dari pengguna internet dan 47 kali lebih besar dibanding total lalu lintas data center sebelum tahun 2018. Jumlah data ini akan mencapai 403 ZB (ZettaBytes) per tahun (33.6 ZB per bulan) tahun 2018, naik dari 113.4 ZB per tahun (9.4 ZB per bulan) di tahun 2013.

Mayoritas bisnis IoT difokuskan pada teknologi komunikasi jarak dekat seperti WiFi, Zigbee, dan Bluetooth. Rumah dan kantor pintar, di mana peralatan rumah tangga atau kantor seperti kulkas, televisi, printer, card reader dan sistem pencahayaan, semuanya tersambung ke internet.

IMPLIKASI

Pada skala kecil, keberadaan sensor-sensor dan perangkat di dalam rumah dapat menghasilkan salinan data keadaan di dalam rumah. Dan pada skala yang lebih luas, data dari IoT dapat menggambarkan keadaan suatu kota, seperti Medan, Jakarta dan Bandung, informasi produktivitas kota sampai informasi komponen vital suatu kota seperti tingkat transportasi, energi dan kesehatan kota.

IoT seperti smart thermostats dapat mengatur suhu ruangan jarak jauh dan peralatan ini mampu belajar sendiri memanaskan dan mendinginkan ruangan secara otomatis. Smart lighting dapat mengendalikan pencahayaan, smart security dapat memonitor keamanan rumah 24 jam.

Kota yang memanfaatkan IoT, kondisi transportasi dan pengaturan lalu-lintasnya dapat dikendalikan dari jarak jauh, bahkan dapat mengatur dengan sendirinya. Penyaluran energi listrik dan sistem pemanasan juga dapat dikendalikan. Tingkat kebutuhan dan penyaluran air untuk masyarakat juga dapat dimonitor dan dikendalikan. Dengan teknologi IoT, pelayanan pengelolaan sampah dapat berlangsung dengan otomatis.

Menurut data dari Externetworks, 70% perangkat IoT memiliki celah keamanan. Saat peralatan IoT terhubung ke internet maka terbuka potensi pengamatan dan penyalahgunaan data secara tidak terkendali. Pada skala kecil, bila kulkas IoT yang terhubung ke internet mampu mendeteksi kebiasaan dan konsumsi makanan pengguna, maka data itu dapat dimanfaatkan lawan untuk menghentikan laju supply bahan makanan tertentu.

Jika jam tangan IoT mampu mendeteksi ketidakstabilan detak jantung, maka data pribadi itu dapat disalahgunakan. Dan thermostatspun akan mendinginkan ruangan yang suhunya sudah sangat dingin, smart lighting akan bercahaya di siang hari dan mati di malam hari. Begitu juga dengan peralatan smart-smart lainnya.

Dalam skala kota, kondisi transportasi yang kacau dapat berdampak pada produktivitas, energi yang salah sasaran dapat berdampak pada ketidakadilan. Penyaluran dan persediaan air serta pengelolaan sampah yang tidak maksimal dapat berdampak luas pada kesehatan masyarakat.

SOLUSI

Saat akan mengimplementasikan IoT, pastikan perangkat IoT memiliki fitur keamanan standar IETF seperti HTTPS, TCP dan IP. Otorisasi IoT minimal relevan dengan standar IoT umumnya yakni ACE (Authorization and Authentication in Constrained Environments), CoRE (Constrained Restful Environments) dan COSE (CBOR Object Signing & Encryption).

Pastikan software IoT dalam keadaan terkini, pilih vendor IoT yang bereputasi baik, upgrade keamanan koneksi internet dengan tetap menjaga kerahasiaan password. Apabila IoT terhubung ke cloud server, pastikan resiko yang akan terjadi apabila perangkat disambungkan. Terakhir, untuk mencegah serangan ke dalam jaringan internet IoT, gunakan Virtual Private Network (VPN) pada router. Resiko IoT selalu ada, pastikan Anda paham akan resikonya.

Studi Inferensi Fuzzy Tsukamoto Untuk Penentuan Kelayakan Pembiayaan Konsumtif Nasabah (Studi Kasus pada BPRS Puduarta Insani)

Dalam bisnis perbankan syariah, pemberian pembiayaan atau kredit, baik untuk modal usaha maupun konsumtif kepada calon debitur merupakan bisnis utama. Aktifitas  ini merupakan sumber pendapatan dan sumber resiko operasi bisnis terbesar. Keputusan penentuan kelayakan pemberian pembiayaan kepada calon debitur harus dilakukan dengan pertimbangan yang matang, karena hal ini sangat berpengaruh terhadap pencapaian profitabilitas. Pada makalah ini digunakan Fuzzy Inference System (FIS) dengan metode Tsukamoto untuk menentukan kelayakan pemberian pembiayaan calon debitur. Input yang dibutuhkan adalah score pembiayaan dan interview personal, sedangkan outputnya adalah kelayakan pembiayaan.

Tulisan lengkapnya silahkan baca di sini :

Perancangan Kunci Public RSA dan ElGamal pada Kriptografi untuk Kemananan Informasi

Kriptografi merupakan teknik menyandikan pesan yang memanfaatkan
ilmu matematika diantaranya adalah bilangan prima dengan segala sifat
bilangan bulatnya seperti aritmatika modulo, perpangkatan, faktor persekutuan
terbesar dan faktor kuadrat.

Teori bilangan (Number Theory) merupakan teori mendasar dalam memahami kriptografi. khususnya pada sistem kriptografi dengan kunci asimetrik atau kriptografi kunci publik. Sebagian besar kriptografi kunci publik menggunakan bilangan prima sebagai parameternya. Bilangan prima yang disarankan adalah bilangan prima yang berukuran besar yakni yang terdiri dari lebih dari seratus angka.

Makalah ini membahas tentang pembangkitan bilangan acak menggunakan algoritma Linear Congruential Generator(LCG), pengujian keprimaan bilangan menggunakan algoritma Miller-Rabin dan implementasi kriptografinya menggunakan algoritma RSA dan ElGamal.

Tulisan lengkapnya, silahkan baca di sini :

Project IoT dengan perangkat Arduino dan Raspberry Pi

Pecinta elektronik, Arduino dan Raspberry Pi sudah menjadi papan pengembangan yang populer. Salah satu keunggulannya karena harga yang relatif murah dan mudah digunakan.

Arduino

Arduino memiliki beberapa tipe papan di antaranya Uno, Micro, Nano, dan Lilypad. Di antara semuanya, yang paling mudah digunakan oleh pemula adalah Arduino Uno. Arduino Uno menggunakan chip ATmega328p yang diproduksi oleh Atmel Corp. Chip ini digolongkan sebagai microcontroller karena hanya dapat diprogram untuk menjalankan 1 aplikasi saja — flash memory hanya 32KB dan tidak ada sistem operasi yang terpasang, sehingga kode yang kita tulis benar-benar akan berjalan langsung di atas silikon. Istilah kerennya “bare metal programming”.

Anano

Arduino Nano

Bahasa pemrograman yang dapat dipakai untuk memprogram Arduino Nano yaitu C dan C++. Beberapa perangkat lunak untuk mengembangkan aplikasi di atas platform Arduino:

  1. Arduino IDE. Ini adalah text editor resmi yang dikeluarkan oleh Arduino, mudah digunakan untuk pemula tetapi memiliki banyak keterbatasan jika ingin digunakan untuk mengembangkan aplikasi serius.
  2. Platform IO. IDE (Integrated Development Environment) untuk pengembangan aplikasi yang sangat serius. Tidak hanya untuk mengembangkan aplikasi di atas Arduino, tapi juga untuk mengembangkan aplikasi di atas chip lain seperti ARM.
  3. Atmel Studio. Perangkat lunak yang dikeluarkan oleh Atmel, pembuat chip ATmega. Mereka menyebutnya dengan IDP (Integrated Development Platform). Memiliki fitur development dan debugging yang sangat lengkap. Cocok dipakai jika hendak mengembangkan aplikasi serius dan untuk skala produksi massal.

Raspberry Pi

Berbeda dengan Arduino, Raspberry Pi lebih tepat disebut sebagai mini-computer. Ditenagai oleh prosesor ARM Cortex dan memori hingga 1 GB (untuk versi terbaru, Raspberry Pi 3) dan beberapa port output seperti HDMI, USB, Ethernet, built-in WiFi, dan GPIO yang berlimpah, membuat Raspberry Pi menjadi idola di dunia elektronik

Raps

Raspberry Pi 3

Raspberry Pi dapat dijalankan dengan menggunakan sistem operasi Linux maupun WIndows 10 Iot Core Saat ini, yang paling umum digunakan yaitu Linux Raspbian.

Bahasa pemrograman yang dapat digunakan untuk mengembangkan aplikasi pada Raspberry Pi sangat beragam.

  1. C dan C++. Bahasa pemrograman yang sangat efisien untuk mengembangkan aplikasi dengan memory footprint yang kecil.
  2. Python. Biasa digunakan oleh para makers untuk mengembangkan aplikasi di Raspberry Pi.
  3. JavaScript menggunakan Node.js. Jika sudah biasa menggunakan teknologi web, maka ini adalah bahasa pemrograman yang tepat untuk mengembangkan aplikasi di atas Raspberry Pi.

C# dan F#. Jika sistem operasi yang digunakan adalah Windows 10 IoT Core, maka bahasa pemrograman yang paling tepat digunakan adalah C# atau F# jika ingin menggunakan paradigma functional programming.

Di Indonesia harga pasaran Arduino Nano (yang asli) berkisar di angka Rp150.000-Rp250.000 dan Raspberry Pi 3 (versi terbaru) berkisar di angka Rp600.000-Rp800.000. Perbedaan yang cukup signifikan.

Arduino Nano cocok digunakan jika:

  1. Anda tergolog masih pemula di dunia elektronik  dan IoT.
  2. Proyek yang hendak dibuat tergolong sederhana, misal menyalakan AC rumah jika suhu di ruangan sudah terlalu panas.
  3. Proyek robotika sederhana, misal robot line follower atau robot yang mendeteksi objek dengan sensor jarak.

Sedangkan Raspberry Pi cocok digunakan jika:

  1. Ingin mempelajari embedded Linux (Linux OS yang berjalan di perangkat dengan spesifikasi minimal).
  2. Membutuhkan tenaga komputasi yang lebih besar.
  3. Butuh integrasi antara perangkat keras seperti sensor dan aktuator dengan perangkat lunak yang menggunakan komputasi kompleks, misal untuk proyek robotika yang digabungkan dengan computer vision.

Membutuhkan koneksi dengan Internet, langsung out of the box, Raspberry Pi 3 sudah memiliki chip WiFi bawaan.